Di Antara Ketegasan dan Ketakutan: Dilema Pendidikan Karakter di Sekolah
Dalam sistem pendidikan modern, guru tidak lagi sekadar berperan sebagai penyampai materi akademik. Guru juga diposisikan sebagai pendidik karakter, teladan moral, serta figur otoritas yang membentuk disiplin dan etika siswa. Idealnya, proses ini berjalan secara sinergis antara sekolah dan orang tua. Namun, realitas di lapangan menunjukkan hubungan guru–orang tua–siswa semakin kompleks. Meningkatnya kekerasan di sekolah, kriminalisasi guru oleh orang tua, serta perilaku sebagian siswa yang meremehkan otoritas guru menjadi persoalan serius yang berdampak langsung pada efektivitas pendidikan karakter.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan merupakan masalah global. Data UNESCO menunjukkan bahwa hampir satu dari tiga siswa di dunia mengalami serangan fisik setidaknya sekali dalam setahun, dan angka perundungan bulanan juga mencapai sekitar sepertiga populasi siswa global (UNESCO/2019). Kekerasan tersebut terbukti berdampak negatif terhadap kesehatan mental, rasa aman, dan capaian akademik siswa. Di negara maju seperti Inggris, laporan menunjukkan puluhan ribu siswa dikeluarkan atau diskors karena menyerang guru dalam satu tahun ajaran, menandakan tingginya tantangan perilaku di sekolah modern (The Sun/2023). Di Israel, survei menemukan bahwa sekitar 9% guru mengalami kekerasan dari siswa dan 5% dari orang tua, termasuk ancaman hukum, yang memperlihatkan fenomena kriminalisasi guru dalam relasi sekolah–keluarga (Benbenishty & Astor/2018).
Kondisi serupa juga tercermin di Indonesia. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia melaporkan bahwa kasus kekerasan di satuan pendidikan meningkat lebih dari 100% pada tahun 2024, dengan total 573 kasus, mencakup kekerasan fisik, psikologis, dan seksual (JPPI/2024). Menariknya, data tersebut menunjukkan guru sebagai pelaku terbanyak berdasarkan laporan media, namun di saat yang sama guru juga merupakan kelompok yang rentan menjadi korban kekerasan dan kriminalisasi. Situasi ini menandakan adanya relasi yang tidak sehat dalam ekosistem pendidikan, di mana kepercayaan dan komunikasi antar pihak melemah.
Di sisi positif, berbagai kajian menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang dirancang secara konsisten dan kolaboratif mampu menurunkan perilaku agresif siswa. Pendidikan karakter yang menekankan empati, tanggung jawab, dan rasa hormat terbukti menciptakan suasana kelas yang lebih kolaboratif serta mendukung perkembangan sosial-emosional peserta didik (Lickona/2013). Kolaborasi antara guru dan orang tua melalui komite sekolah atau Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan dapat menjadi jembatan komunikasi untuk mencegah konflik dan salah paham. Pemerintah juga menegaskan bahwa peran keluarga sangat penting dalam membangun budaya sekolah yang aman dan positif (Kemendikbudristek/2023).
Namun, realitas di lapangan menunjukkan sisi gelap dari relasi tersebut. Fenomena kriminalisasi guru oleh orang tua membuat banyak guru merasa takut bersikap tegas. Laporan orang tua kepada aparat hukum atas tindakan disiplin, tanpa melalui mekanisme sekolah terlebih dahulu, menimbulkan efek jera bagi guru untuk menegakkan aturan. Akibatnya, pembinaan karakter menjadi tumpul dan tidak konsisten. Data menunjukkan sekitar 10% guru pernah menjadi korban kekerasan atau intimidasi dari siswa dan orang tua, termasuk pelaporan hukum yang berdampak psikologis dan profesional (GoodStats/2024). Di sisi lain, penelitian internasional menunjukkan bahwa ketika otoritas guru melemah, perilaku negatif siswa cenderung meningkat dan menciptakan siklus kekerasan yang saling memperkuat (Gershoff et al./2021).
Menurut penulis, solusi utama terletak pada pencarian keseimbangan antara ketegasan dan empati. Pendidikan karakter tidak boleh dijalankan dengan kekerasan, tetapi juga tidak boleh kehilangan wibawa. Perlindungan hukum bagi guru perlu diperjelas agar tindakan disiplin yang proporsional tidak mudah dikriminalisasi. Di saat yang sama, sekolah harus memastikan adanya mekanisme pengawasan agar tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan oleh pendidik. Orang tua pun perlu diedukasi bahwa pendidikan karakter adalah proses bersama, bukan tanggung jawab tunggal sekolah.
Pada akhirnya, pendidikan karakter yang efektif hanya dapat terwujud melalui kerja sama yang sehat antara guru, orang tua, dan siswa. Ketika semua pihak saling menghormati peran masing-masing, sekolah dapat menjadi ruang aman untuk belajar, bertumbuh, dan membangun generasi yang berkarakter kuat.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Karakter: Harta Tak Ternilai di Era Digital
Di era digital ini, kita disuguhi dengan berbagai fenomena yang membuat kita terkejut dan khawatir. Siswa yang memukul guru, orang tua yang mengkriminalisasi guru, dan anak-anak yang le
Pertemuan Cahaya, Kapur, dan Hutan dalam Ruang Segi Empat
Generasi Z lahir di tengah cahaya layar yang tak pernah padam, ibarat sebuah sungai digital yang mengalir deras, penuh warna, dan tak mengenal jeda. Bagi mereka, ponsel bukan sekadar al
"Analisis Kritis Efektivitas Peningkatan Kompetensi Guru: Paradoks 'Sirkus Pelatihan' dan Degradasi Mutu Pengimbasan"
PendahuluanPeningkatan kompetensi profesional guru merupakan imperatif utama dalam sistem pendidikan. Pelatihan dan pengembangan profesional berkelanjutan (CPD) seca
Neraca Keseimbangan baru:Antara Berat Gizi Gratis Vs Bobot Jam sekolah, Menuju Titik Ekuilibrium Mutu Siswa (refleksi Kecil dari SMA N.2 Kupang Timur)
Metafora Gizi dan Harapan MutuSejak pertengahan Oktober 2025, bendera harapan berkibar di tiang sekolah kami, diiringi irama sendok beradu. Program MBG (Makan Bergiz
GURU MASA LALU VS SISWA MASA KINI
Ketika melihat judul di atas, menarik karena Guru dan siswa adalah manusia penghuni Zamannya sedangkan masa lalu dan masa kini adalah Zaman dan waktu yang
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK Oleh YULIUS BERA TENAWAHANG (SMA Negeri 2 Kupang Timur) Puji Syukur, saya sebagai Calon G
KONEKSI ANTAR MATERI-REFLEKSI DAN KESIMPULAN MODUL 1.1 PGP
KONEKSI ANTAR MATERI-REFLEKSI DAN KESIMPULAN MODUL 1.1 PGP Ketika mendengar nama sosok Ki Hajar Dewantoro, pikiran saya langsung tertuju pada pepatah kuno atau istilah “Ing Ngars
TUGAS GURU: MEWUJUDKAN KEPEMIMPINAN MURID
Mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan pemantik, “pernahkah guru-guru melakukan refleksi?” Dan kemudian menyadari bahwa terkadang, guru atau orang dewas
TANTANGAN KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN (Dilema Etika vs Bujukan Moral)
Pengantar Sebagai pemimpin pendidikan, seorang Kepala Sekolah maupun guru harus menjadi pemimpin yang disukai, dipercaya, mampu membimbing, berkepribadian, serta abadi s
MENENGOK KEDISIPLINAN GURU PROFESIONAL
Tulisan ini bertujuan menggugah guru dalam menjalankan tugas sebagai guru profesional. Suka atau tidak, tulisan atau opini ini merupakan salah satu tulisan yang termuat dalam buku
